Menyebrang di Jalan Raya Margonda ‘Bukan hanya soal waktu, tapi ini soal nyali !!!’ – Lanjutan

January 10, 2012 Leave a comment

Cerita Sebelumnya :  Bagian Pertama

Cerita Sebelumnya…

Keluar dari mini market saya pun kembali ke medan perang, tetapi strategi saya kali ini adalah dengan mencoba melintasi jalan melalui zebra cross dengan harapan pengguna kendaraan akan lebih mengurangi kecepatannya saat melihat tanda khusus untuk penyebrang jalan tersebut. sekali lagi waktu yang ditunggu tidak kunjung datang, sebagai warga negara yang baik (saat itu :D ) saya berusaha bersabar dan menunggu kesempatan. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 06.55 pagi dan kesabaran saya pun habis ditelan gemuruh kendaraan dan debu-debu yang berterbangan (halagh..) akhirnya saya memutuskan bahwa ini adalah soal nyali… kita lihat siapakah pemenang sebenarnya dijalan ini, Pejalan kaki atau kendaraan bermotor yang mengesalkan itu… jreng..jreng…

Jalan Margonda dan Strategi Garis Keras

Tangan saya pun mulai diangkat keatas memperlihatkan telapak tangan ke arah kendaraan yang lewat sebagai tanda ‘STOP’ kepada mereka bahwa saya akan melalui jalan ini sebentar dan zebra cross sebagai saksinya :D hehe… Percobaan pertama gagal total, hanya sebagian kecil kendaraan yang memelankan laju kendaraannya dan akhirnya saya terhempas kembali kebelakang. Percobaan berikutnya kembali gagal dengan permasalahan yang sama. Percobaan ketiga saya sudah hilang kesabaran, saya angkat tinggi-tinggi tangan keatas dengan menggunakan gaya Hitler (tanpa kumis ala Jojon tentunya :D ) melalui jalan dengan percaya diri (hanya beberapa detik) hingga tepat di tengah jalan kendaraan yang bernama ‘motor’ tidak mau melambatkan kecepatannya malah mencoba menghindari berbelok beberapa meter dengan maksud melalui jalan di belakang saya dan saya pun terus melaju secara perlahan untuk menghindari gerakan yang tidak diinginkan.

Berdasarkan pengalaman saya, kemungkinan besar seseorang penyebrang jalan ditabrak adalah keragu-raguan mereka dalam melintasi jalan sehingga membingungkan pengguna kendaraan terutama ‘motor’ untuk memprediksi apakah penyebrang jalan akan terus ke melaju kedepan atau malah mundur ke belakang, yaahh… seperti yang kita ketahui bersama apabila ada penyebrang jalan idealnya kendaraan akan berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan mereka lewat tapi tidak di negeri ‘JABODETABEK’ ini pengguna kendaraan akan melihat celah mana mereka dapat lewat sehingga tidak perlu memberhentikan kendaraannya sedikitpun :( . Sedih memang, tapi mau bagaimana lagi volume kendaraan yang padat dengan tidak disediakannya fasilitas penyebrangan jalan yang memadai membuat urusan ‘Jalan’ ini menjadi begitu carut-marut (ribet pokoknya lah –red :) )

Ilustrasi: Kepadatan Lalu-lintas Jalan Raya Margonda

Read more…

Categories: Cerita Lepas Tags: ,

Menyebrang di Jalan Raya Margonda ‘Bukan hanya soal waktu, tapi ini soal nyali !!!’

January 3, 2012 2 comments

Sekitar bulan November tahun lalu, saya dan tujuh orang rekan lainnya mendapatkan tugas kantor untuk melakukan survey ke suatu tempat di luar kota. Survey yang akan dilakukan membutuhkan waktu seharian penuh sehingga kami pun memutuskan untuk berangkat lebih pagi agar semua pekerjaan disana dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Kami pun akhirnya sepakat bahwa perjalanan akan dilakukan esok hari tepatnya pukul 7 pagi Waktu Indonesia Bagian Ontime :D hehehe… maklum terkadang kalau tidak dibilang mesti ontime biasanya suka ngaret datangnya.

Titik poin tempat kami berkumpul (meeting point) pun ditentukan tepat di depan Apartemen Margonda Residence jalan raya Margonda, Depok. Lokasi tersebut sengaja diambil dikarenakan mayoritas dari kami tinggal dikawasan Depok dan tepat di depan Apartemen Margonda Residence biasanya banyak terdapat kumpulan Taksi yang stand by disana, jadi rencananya setelah kami berkumpul semua disana dapat langsung menyewa taksi menuju ke tempat survey yang sudah ditentukan sebelumnya.

Saat pertama kali mendengar bahwa kami akan berkumpul di depan Apartemen Margonda Residence, saya langsung menerka-nerka dimanakah tempat tersebut berada. “Hmmm… sepertinya tempat tersebut tidak begitu asing terdengar”, setelah berfikir sejenak akhirnya saya teringat bahwa tempat tersebut tidak jauh dari lokasi kos-kosan saya yang berada di Jl. Sawo, Pintu Barel UI, Depok.  Lokasi itu tepatnya berada di sebelah timur jalan raya Margonda atau saya hanya perlu jalan sebentar menuju ke jalan raya Margonda dan menyebrang jalan raya tersebut untuk dapat sampai ke-TKP (Tempat Kejadian Pekara-red). Target lokasi sudah didapatkan, setting waktu sudah diatur, sekarang tinggal menghadapi hari esok yang masih menjadi misteri :D

Read more…

Taman Menteng ‘Oase Ditengah Rimbunnya Pencakar Langit Ibukota’

July 24, 2011 6 comments

Lahir dan menjalani masa kecil di perkampungan kecil segitiga emas ibukota, tepatnya di kawasan menteng atas, Jakarta selatan, membuat saia mengenal beberapa kawasan menarik yang ada disana. Mulai dari Jl. HR. Rasuna Said, kuningan, sampai kawasan cassablanca cukup hatam dalam ingatan, lumayan lah tidak memalukan apabila ada orang yang bertanya sekitar daerah situ walaupun tidak seluruhnya diingat, maklum perkembangan kota Jakarta yang begitu pesat membuat saia terkadang kaget dengan perubahan drastis yang terjadi disana. Mulai dari tanah pekuburan yang berubah jadi rimbunan apartemen mewah sampai pasar tradisional yang mulai berubah menjadi tertata rapi dan modern, walaupun konon kabarnya tetap akan kena gusur :) yah itulah fenomena yang terjadi di segitiga emas Jakarta.

Pengetahuan yang cukup lumayan membuat seorang teman kantor yang berasal dari luar daerah meminta saia menjadi guide untuk sekedar berjalan-jalan mencari suasana baru di kawasan tersebut. Walaupun masih amatir tanpa pikir panjang saia langsung meng’iya’ kan saja ajakan tersebut, yah hitung-hitung me’refresh’ lagi ingatan nostalgia jaman dulu. Berdasarkan prediksi kemungkinan kami hanya akan bermain-main disekitaran Jl. HR. Rasuna Said dengan spot-spot yang dikunjungi antara lain GOR soemantri brojonegoro, pasar festival, apartemen rasuna said, mesjid bakrie, dan yang terakhir adalah makan bakso tenis di gang sempit kampung belakang apartemen (menteng atas) sepertinya kesemuanya itu sudah cukup menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk mengeksplorasinya Read more…

Mencari Sebuah Kebebasan Orientasi – Gunung Joglok, Mandalawangi, Gunung Gedogan (Bagian 4)

Mandalawangi, jalur adrenalin tingkat tinggi

Pukul tiga pagi di puncak Joglok para caang mulai terlihat beraktivitas, bersiap-siap untuk sarapan dan packing kembali perlengkapan dan peralatan yang akan dibawa menuju Mandalawangi. Mandalawangi disini bukanlah lembah Mandalawangi di kaki gunung Pangarango, melainkan daerah Mandalawangi atau orang setempat biasa menyebutnya dengan nama Geger Bentang. Dalam perjalanan ini tim Joglok sudah sangat bersemangat karena energy yang sudah di charge semalaman ditambah medan yang akan dilalui cukup banyak turunan apabila dilihat dari kontur di peta. Para caang cukup bersemangat pagi itu, terlebih lagi karena cuaca yang cerah dan bersahabat yang membantu caang untuk melakukan orientasi medan dengan cukup baik karena objek-objek yang akan dijadikan patokan, antara lain gunung Pangarango dan Gedogan cukup terlihat dengan jelas.

Perjalanan menuju Mandalawangi diawali dengan kecepatan tinggi karena jalur yang menurun dengan sempurna dan beban carrier yang semakin berkurang memudahkan pergerakan para caang untuk sesegera mungkin menuju Mandalawangi, dan setelah dilakukan estimasi jarak mendatar dari peta, ternyata jarak tempuh ke sana tidak terlalu jauh dari puncak Joglok. Akan tetapi yang jadi permasalahan adalah kilometer terakhir untuk menuju puncak Mandalawangi atau Geger Bentang akan melalui medan yang sulit, dimana para caang harus melewati jalur dengan ketinggian yang ekstrim, bahkan beberapa kali harus melompat untuk berpegangan dengan akar-akar pohon untuk dapat naik untuk melanjutkan perjalanan. Medan yang cenderung curam hampir saja membuat beberapa rekan caang menjadi korban. Jalur menuju Mandalawangi terbilang cukup singkat karena berhasil ditempuh hanya dalam waktu kurang lebih dua jam, sehingga pada tengah hari tim Joglok sudah berhasil menaklukkan Mandalawangi,

Read more…

Mencari Sebuah Kebebasan Orientasi – Gunung Joglok, Mandalawangi, Gunung Gedogan (Bagian 3)

Jalur Joglok, pendakian tanpa batas

Mungkin sepertinya agak berlebihan, akan tetapi itulah yang terjadi di jalur ini. Jalur yang sepertinya menyenangkan apabila dilihat dari peta karena hanya akan melewati punggungan-punggungan, akan tetapi kenyataannya dilapangan berbalik seratus delapan puluh derajat. Jalur Joglok benar-benar jalur pendakian, karena dari awal start dari flying camp hingga mencapai puncak Joglok benar-benar isinya adalah pendakian yang cukup sulit. Kondisi yang menyulitkan ini antara lain, kesulitan dalam melakukan orientasi medan karena tipe pepohonan yang lebat sehingga sangat sulit untuk melihat objek sekitar, hal ini juga menyulitkan dalam menentukan posisi tim Joglok dalam peta (Resection). Kondisi lain yang menyulitkan adalah medan yang berat, dimana kondisi tanah yang sangat gembur dan licin disertai dengan kemiringan track yang curam di sepanjang punggungan membuat beberapa rekan caang hingga harus jatuh bangun untuk melewatinya, sehingga rasa lelah menjadi kawan baik dalam perjalanan ini.

Jalur Joglok memakan waktu hingga kurang lebih lima jam perjalanan hingga ke puncak (1846 m). Jam masih menunjukkan pukul lima sore di puncak Joglok, dan para mentor pun tidak sabar untuk melanjutkan perjalanan hingga ke Mandalawangi. Wajah lelah para caang tidak bisa disembunyikan lagi, sempat tadinya para caang berfikir untuk melanjutkan Read more…

Mencari Sebuah Kebebasan Orientasi – Gunung Joglok, Mandalawangi, Gunung Gedogan (Bagian 2)

Flying Camp, awal dari pemahaman dasar orientasi

Sebelum para mentor dan senior Mapala yang lain benar-benar mempercayakan rekan-rekan caang untuk mengaplikasikan ilmu navigasi yang sudah pernah diberikan di kampus, para caang sekali lagi harus diuji daya analisisnya terhadap bentangan alam yang sesungguhnya dilapangan. Dan memang pada kenyataannya penerapan navigasi di medan yang sesungguhnya jauh lebih sulit dan membingungkan apabila dibandingkan dengan latihan di kampus yang notabene setidaknya para caang sudah megetahui objek-objek disana, karena di alam bebas kita tidak akan pernah tau objek apa yang ada dilapangan tanpa bantuan peta, daya analisis terhadap orientasi medan, dan tentunya pengalaman dilapangan itu sendiri. Pemahaman inilah yang dirasa penting oleh para mentor untuk diberikan ke rekan-rekan caang sampai setidaknya sudah memahami konsep dasar navigasi alam bebas.

   

Waktu menunjukkan sekitar pukul lima pagi di flying camp, setelah pagi-pagi buta sekitar pukul tiga pagi tim besar beranjak dari camp bayangan di perkebunan teh Gunung Mas menuju ke Read more…

Mencari Sebuah Kebebasan Orientasi – Gunung Joglok, Mandalawangi, Gunung Gedogan (Bagian 1)

Mencari sebuah kebebasan orientasi…

Ya, itulah kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan perjalanan Calon Anggota (caang) kali ini. Tidak terasa BKP’11 (Badan Khusus Pelantikan Mapala UI) sudah memasuki praktek perjalanan ke dua, dan para caang pun kembali ditantang untuk mengaplikasikan kemampuan dasar alam bebas yang sebelumnya telah diberikan oleh para senior Mapala (mentor) pada setiap akhir pekan di Pusat Kegiatan Mahasiswa (Pusgiwa), dalam rangka seleksi tahap pertama calon anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala UI).

Tantangan kali ini adalah praktek pertama dalam pengaplikasian navigasi alam bebas, dimana para caang akan diasah kemampuannya dalam hal navigasi dasar, seperti menentukan posisi koordinat, membaca peta, menentukan arah, menentukan ketinggian Read more…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.